Selasa, 10 Desember 2019



KORUPSI BIROKRAT 




Sudah tidak umum lagi maraknya korupsi di dalam negeri ini menjadi permasalahan yang sangat mencolok semenjak dari dahulu kala.Sebagai masyarakat awam memang banyak yang mencibir koruptor adalah biang kerok dari bobroknya bangsa ini.saya pun demikian,betapa tidak uang negara yang seharusnya disalurkan untuk kepentingan rakyat dimanfaatkan oleh segelintir orang hanya untuk kepentingan pribadinya.Disaat negara Indonesia ini membutuhkan pembangunan dalam berbagai hal,tetapi itu semua disalahgunakan dengan mudah semudah membalikkan telapak tangan.Sebagai contoh kasus korupsi yang telah umum didengar yaitu korupsi di lingkungan pemerintahan,contoh: korupsi dana pendidikan,korupsi pendapatan negara,korupsi pembangunan sarana dan prasarana umum.Sudah terlalu gampang didengar oleh kita selaku masyarakat.Bosan?Ya sebenarnya saya sudah terlalu bosan mendengar berita korupsi di manapun,Apa yang bisa kita lakukan untuk itu semua?semuanya harus berawal dari diri sendiri.Sewaktu kita sekolah dulu,sebenarnya pendidikan untuk pemahaman mana yang baik dan mana yang salah itu sudah diajarkan .tetapi itu semua tidak cukup jika tidak didukung dari hasrat diri sendiri untuk melakukan yang baik dan jangan melakukan yang salah,buktinya sampai sekarang korupsi terjadi dimana-mana. Faktor Penyebab Korupsi Sebenarnya apa titik permasalahan dari itu semua?Faktor penyebab korupsi ada dua,yaitu: faktor internal dan faktor eksternal .Faktor internal penyebab korupsi bisa datang dari diri sendiri/pribadi.Adapun contoh sikap yang datang dari diri pribadi ,yaitu : Sifat tamak manusia,Moral yang kurang ketika menghadapi godaan,Gaya hidup yang konsumtif,Tidak mau bekerja keras.Apa yang mempengruhi itu semua sehingga bisa muncul?Perilaku individu,organisasi ,dan masyarakat tepat individu dan organisasi itu berada.Korupsi bisa muncul ketika ada kesempatan yang bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab itu.Ditambah dukungan dengan lingkungan dimana orang itu berada,sehingga kemungkinan korupsi akan sangat besar jika antar individu saling mendukung untuk memasuki celah yang mungkin tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Sementara itu Faktor Eksternal penyebab korupsi adalah faktor penyebab terjadinya korupsi karena sebab sebab dari luar.Contoh: Kurangnya keteladanan dan kepemimpinan elite bangsa,Lemahnya komitmen dan konsistensi penegakan hukum dan peraturan perundangan,Rendahnya integritas dan profesionalisme,Mekanisme pengawasan keuangan di berbagai lembaga pemerintahan sangat kurang,Kondisi lingkungan kerja,dan Lemahnya keimanan dalam diri seseorang. Setelah memahami faktor penyebab korupsi,bisa kita pilih satu point penting yaitu Individu.Menurut saya individu ini adalah hal yang sangat vital,jika seseorang/individu ini mempunyai rasa keimanan korupsi sekecil apapun tidak akan pernah terjadi.Tapi di zaman sekarang dengan gaya hidup konsumtif dan haus akan jabatan,semuanya akan dilakukan demi mendapat keuntungan yang besar tanpa harus bekerja dengan keras.Adakah? jelas Korupsi adalah jalan yang akan dipilih seseorang jika dia tidak mau bekerja keras dan hanya ingin mendapatkan keuntungan untuk kepentingan pribadinya.Sangatlah mudah untuk melakukan penyelewengan dana di dalam suatu lingkungan.Ya sangat mudah bagi orang yang tidak mempunyai rasa keimanan,kejujuran,rasa malu,moral dan etika.hanya orang yang tidak mempunyai itu yang akan melakukan korupsi.Yang sangat dirugikan siapa?Semua yang terkait dengan lingkungan itu akan dirugikan hanya karena perbuatan segelintir orang yang hanya ingin mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum. Bisakah itu semua dicegah?Bisa tetapi perlu waktu yang sangat panjang dan perlunya kesadaran dalam lingkup pekerjaan,agar tidak melakukan korupsi.Mungkinkah semua itu dicegah?Saya berpendapat kemungkinan kecil bisa dicegah untuk mengatasi korupsi di berbagai lingkup pekerjaan,sebelum semua individu interospeksi diri dan bisa mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.Jangankan memberantas korupsi di lingkup pemerintahan,di lingkungan sekitar kita saja masih terlihat korupsi yang terjadi.Jadi jangan berkoar-koar dahulu untuk memberantas korupsi di lingkungan pemerintahan,kita cukup berkaca pada diri kita sendiri,Apakah saya sendiri mampu menghindari untuk melakukan korupsi?renungkanlah. Pada umumnya korupsi terjadi jika ada kesempatan,dan sebagian besar yang melakukan korupsi adalah seseorang yang mempunyai posisi tinggi dalam suatu lingkup pekerjaan.Saya meyakini di setiap lingkup pekerjaan pasti terjadi korupsi.Apa yang salah dari itu semua? Penyalahgunaan kekuasaan adalah salah satu penyebab terjadinya korupsi.suatu posisi dimana seseorang berada di posisi tertinggi dalam suatu perusahaan,dan tidak adanya pengawasan keuangan yang berkala adalah menjadi salah satu penyebab terjadinya korupsi di suatu lingkup pekerjaan.Yang berkuasa selalu menjadi pemenang,itulah yang dapat saya baca dari kebiasaan di negara ini. Dampak Korupsi Korupsi itu tidak hanya berdampak dari satu aspek kehidupan saja,tetapi korupsi akan menumbulkan efek domino yang meluas terhadap eksistensi bangsa dan negara.Meluasnya praktik korupsi di suatu negara akan memperburuk kondisi ekonomi bangsa, misalnya harga barang menjadi mahal dengan kualitas yang buruk, akses rakyat terhadap pendidikan dan kesehatan menjadi sulit, keamanan suatu negara terancam, kerusakan lingkungan hidup, dan citra pemerintahan yang buruk di mata internasional sehingga menggoyahkan sendi-sendi kepercayaan pemilik modal asing, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan negara pun menjadi semakin terperosok dalam kemiskinan.Pernahkan anda membayangkan sedikit saja akibat yang ditimbulkan oleh korupsi? 


TUGAS MAKALAH KEPEMIMPINAN
“Keadaan Sosial Ekonomi dan Politik”
                                                                     
lambang-unja.jpg





Dosen Pengampu          : Alva Beriansyah, S.IP., M.IP
Dr . H. Ridham Priskap , SH., MH

Mata Kuliah         : Kepemimpinan


Disusun oleh :
M. Farid Nur Isnaini (H1A117031)

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JAMBI
2019

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kita sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu untuk menyelesaikannya sebagai tambahan ilmu, tugas dan pedoman makalah mata kuliah kepemimpinan yang berkaitan dengan keadaan sosial ekonomi dan juga politik serta tipe ideal pemimpin Kabupaten Batanghari.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
            Akhir kata, kami sampaikan terimakasih atas segala bentuk kerjasamanya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan juga kepada para pembaca umumnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.




                                                                                                Jambi,  Oktober 2019




Penulis            





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................... i

DAFTAR ISI............................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
     1.1 Latar Belakang................................................................................................................... 1
     1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................................. 3
     1.3 Tujuan Masalah.................................................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN`
2.1 Keadaan sosial,politik dan ekonomi................................................................................... 4
2.2 Tipe Pemimpin Ideal.......................................................................................................... 5

BAB III PENUTUP
     3.1 Kesimpulan........................................................................................................................ 8
     3.2 Saran.................................................................................................................................. 8

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................ 9







BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok menuju pencapaian sebuah visi atau tujuan yang ditapkan (Robbins, 2015:249). Sedangkan gaya kepemimpinan adalah pola perilaku pemimpin dalam mempengaruhi sikap, perilaku, dan sebagainya para pengikutnya. Pengertian pola perilaku bukan dalam pengertian statis akan tetapi dalam pengertian dinamis. Gaya kepemimpinan seseorang akan berubah-ubah tergantung pada kuantitas dan kualitas para pengikut, situasi, dan budaya sistem sosialnya. Seorang pemimpin dapat mempergunakan sejumlah pola perilaku atau gaya yang berbeda dalam mempengaruhi pengikutnya (Wirawan, 2013:352). Seorang pemimpin harus memperhatikan gaya kepemimpinan dalam proses mempengaruhi dan mengarahkan kegiatan anggota kelompoknya, karena masing-masing individu memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda. Sedangkan disisi yang lain, perusahaan memiliki visi dan misi yang harus diwujudkan oleh setiap karyawannya. Gaya kepemimpinan yang tepat dibutuhkan dalam suatu perusahaan untuk dapat meningkatkan kepuasan kerja melalui penyelarasan tujuan anggota dengan tujuan perusahaan, sehingga keduanya dapat terlaksana dengan baik. Selain gaya kepemimpinan, keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan dalam mewujudkan kepuasan kerja pada karyawannya dipengaruhi juga oleh budaya organisasi. Edgar Schein dalam Ivancevich dkk (2007:44) mendefinisikan budaya organisasi sebagai suatu pola dari asumsi dasar – yang diciptakan, ditemukan, atau dikembangkan oleh kelompok tertentu saat belajar menghadapi masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal – yang telah berjalan cukup baik untuk dianggap valid dan oleh karena itu, untuk diajarkan kepada anggota baru sebagai cara yang benar untuk berpresepsi, berpikir, dan berperasaan sehubungan dengan masalah yang dihadapinya. Budaya organisasi, budaya koorporat dan budaya kerja merupakan nilai-nilai dominan yang disebarluaskan didalam organisasi dan dijadikan acuan sebagai filosofi kerja pegawai.
Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan hal yang bersifat individual. Hal ini karena setiap individu mempunyai kepribadian yang berbeda satu dengan yang lain. Wibowo (2013:132) mengatakan kepuasan kerja pada hakikatnya adalah merupakan tingkat perasaan senang seseorang sebagai penilaian positif terhadap pekerjaannya dan lingkungan tempat pekerjaannya. Pekerja dengan kepuasan kerja tinggi mengalami perasaan positif ketika mereka berpikir tentang tugas mereka atau mengambil bagian dalam aktivitas tugas. Seorang pemimpin mempunyai tugas untuk membantu pengikutnya mencapai tujuan dan mengarahkan atau Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.18 No.1 Tahun 2018 100 Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Kepuasan Kerja pada PT Agung Automall Cabang Sipin di Provinsi Jambi memberikan dukungan sesuai kebutuhan untuk memastikan bahwa tujuan mereka sejalan dengan tujuan kelompok (Robbins & Coulter, 2010:156). Seorang pemimpin dapat mempergunakan sejumlah pola perilaku atau gaya yang berbeda dalam mempengaruhi pengikutnya. Pemimpin yang menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan karakterisktik pengikut akan memperoleh keselarasan dalam bekerja. Apa yang menjadi kekurangan pengikut atau kondisi pekerjaannya dapat diimbangi pemimpin. Keselarasan dalam bekerja ini yang akan meningkatkan penilaian positif pengikut terhadap pekerjaan. Selain gaya kepemimpinan, keberhasilan suatu oganisasi atau perusahaan dalam mewujudkan kepuasan kerja pada karyawannya dipengaruhi juga oleh budaya organisasi. Edgar Schein dalam Ivancevich dkk (2007:44) mendefinisikan budaya organisasi sebagai suatu pola dari asumsi dasar – yang diciptakan, ditemukan, atau dikembangkan oleh kelompok tertentu saat belajar menghadapi masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal – yang telah berjalan cukup baik untuk dianggap valid dan oleh karena itu, untuk diajarkan kepada anggota baru sebagai cara yang benar untuk berpresepsi, berpikir, dan berperasaan sehubungan dengan masalah yang dihadapinya. Budaya organisasi, budaya koorporat dan budaya kerja merupakan nilai-nilai dominan yang disebarluaskan didalam organisasi dan dijadikan acuan sebagai filosofi kerja pegawai. Karyawan yang memahami nilainilai dalam suatu organisasi kemudian menjadikan nilai tersebut sebagai kepribadian diri. Nilai dan keyakinan yang telah menjadi kepribadian diri akan diwujudkan menjadi perilaku keseharian dalam bekerja. Suatu perusahaan yang terdiri dari banyak karyawan, budaya yang baik akan memberikan iklim positif di tempat kerja. Iklim positif tersebut akan memberikan perasaan positif yang pada akhirnya akan menciptakan kepuasan kerja bagi tiap-tiap karyawan. Berdasarkan uraian diatas, diduga terdapat pengaruh gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan kerja. Dengan asumsi semakin baik gaya kepemimpinan yang dilaksanakan dan semakin kuat budaya organisasi yang diterapkan pegawai, maka semakin tinggi kepuasan kerja yang dirasakan pegawai.

1.2  Rumusan Masalah
1.      bagaimana kondisi kabupaten batanghari :
2.      bagaimana gaya kepemimpinan yang ideal untuk memimpin kabupaten Batanghari

1.3  Tujuan Masalah
  1. mengetahui bagaimana kondisi di Kabupaten Batanghari
  2. mengetahui gaya kepemimpinan yang ideal untuk memimpin kabupaten Batanghari





























BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Kondisi Sosial Politik di Kabupaten Batanghari
Keadaan sosial di Batanghari tidak dapat dipisahkan dari keberagaman suku, budaya dan agama. Masyarakat Batanghari dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan terbuka. Dari sudut pandang keagamaan dikenal sebagai masyarakat yang agamis yang memposisikan agama sebagai landasan dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat Salah contohnya terdapat banyak pondok pesantren dan sekolah madrasah diniyah. Masyarakat Batanghari sampai saat ini masih menjunjung tinggi adat-istiadatnya. Seperti permainan tradisional Rakyat Bumi Serentak Bak regam, pemakaian penutup kepala bagi perempuan (tengkuluk), tradisi lamaran, dan kegiatan bekarang besamo (menagkap ikan bersama).
Sedangkan dari segi politik dikabupaten batanghari mulai terlihat bentuk dinasti politik. Dimana pada saat ini pemimpin di Batanghari di dominasi dari keluarga Syahirsyah dan Fattah. Seperti beberapa nama yang menjadi kandidat kuat bakal maju pada Pilbup Batanghari seperti Yuninta Asmara (isteri Bupati Syahrisyah dan wakil ketua I DPRD Kabupaten Batanghari) dan M. Hafidz (anak Rahimahullah Fattah). Selain itu Wakil Bupati Batanghari saat ini yaitu Hj. Sofia Joesoef, SH, MM merupakan isteri dari Rahimahullah Fattah (BUPATI Batanghari periode 2001-2006). Sedangkan ketua DPRD Batanghari yaitu Anita Yasmin yang merupakan Ketua DPRD termuda di Indonesia tidak lain adalah menantu Wakil Bupati saat ini.
Dalam menghadapi Pilkada Batanghari tahun 2020 diprediksi masih di dominasi 3 Trah yakni, Trah Abdul Fattah, Trah Hasip Kalimuddin Syam, dan Trah Syahirsah SY. Pengamat mengatakan kekuatan Trah mendiang Abdul Fattah masih mengakar. Artinya,konstituen dan basis yang sudah mengakar. Hal ini terbukti pada pemilihan legislatif, dan pilkada sebab setiap kontestasi politik selalu mendominasi. Abdul Fattah mempunya basis yang militan ditingkat bawah. Tetapi berbicara hari ini tidak bisa terlepas dari peluang. Meskipun semua peluang sama, namun siapa yang bisa memanfaatkan situasi pada saat ini. Trah Hasip Kalimuddin Syam ada pada Cameli Puji Astuti yang merupakan putrinya. Trah Hasip hampir sama dengan Trah Abdul Fattah tetapi kontestasi politik yang diikuti belum menunjukkan hasil. Selanjutnya, Trah Syahirsah yang emungkinan besar akan dilanjutkan oleh Yuninta Asmara sebagai istri Bupati Batanghari yang aktif

2.2 Kondisi Ekonomi di Kabupaten Batanghari
Kondisi perekonomian Kabupaten Batanghari sampai saat ini masih didominasi oleh sektor pertanian, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor industri pengolahan. Sektor unggulan terpilih yaitu sektor pertanian, industri, Bangunan, Perdagangan, hotel dan Restoran dan sektor jasa – jasa. Sedangkan Subsektor unggulan terpilih dari sektor pertanian adalah subsektor kehutanan, sedangkan subsektor unggulan terpilih dari jasa-jasa adalah subsektor pemerintahan umum, subsektor terpilih dari sektor perdagangan, hotel dan restoran adalah perdagangan besar dan eceran. 
Namun, komoditas pertanian ataupun perkebunan cukup banyak diusahakan petani dan memegang peranan penting, adalah karet. Hal ini dapat dimaklumi mengapa pentingnya komoditas karet ini dikembangkan sebagai salah satu komoditi unggulan Kabupaten Batanghari mengingat dari sekian banyak komoditi perkebunan, perkebunan karet memiliki lahan terluas dan terbesar di Kabupaten Batanghari, hal ini menunjukkan betapa besarnya potensi komoditas karet untuk di kembangkan guna menopang perekonomian rakyat. Jika dilihat dari jenis usaha perkebunan karet, Kabupaten Batanghari memiliki lahan terluas serta jumlah produksi yang paling banyak dari komoditi-komoditi perkebunan lainnya. Hal ini menunjukkan betapa besarnya produksi komoditas karet untuk dikembangkan guna menopang perekonomian rakyat. Bila dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja, maka usaha tani perkebunan karet ini mampu menyerap ribuan petani karet. Besarnya jumlah petani yang menggantungkan hidupnya pada komoditas perkebunan karet ini, sudah barang tentu merupakan aset yang harus di manfaatkan, sebagai upaya meningkatkan hasil produksi karet dalam rangka meningkatkan ekspor komoditas karet.
Ironisnya sektor pertanian yang merupakan menyerap tenaga kerja terbesar dan tempat menggantungkan harapan hidup sebagian besar masyarakat khususnya di pedesaan  itu justru menghadapi masalah yang cukup kompleks. Masalah-masalah tersebut antara lain mencakup rendahnya tingkat pendapatan petani. Sektor yang identik dengan daerah pedesaan ini menghadapi masalah kemiskinan. Kondisi kesejahteraan masyarakat pedesaan dengan mata pencarian utama disektor pertanian sebagian besar masih di bawah rata-rata nasional. Hal ini bila di biarkan secara terus menerus akan menjadi sebab semakin melebarnya kesenjangan pendapatan antara masyarakat yang berpenghasilan tinggi dengan masyarakat yang berpenghasilan rendah yang pada akhirnya akan menjadikan yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan menjadi semakin miskin (Mubyarto, 1989).[1]

 2.3 Tipe Ideal Pemimpin Untuk Kabupaten Batanghari
Melihat kondisi sosial di Kabupaten Batanghari yang beranekaragam tentu rentan terjadi konflik suku, ras, dan agama, serta para pendatang dan penduduk asli di sana. Kondisi politik yang juga masih di dominasi oleh para penguasa yang memiliki hubungan kekerabatan tentu hal ini dapat berpengaruh pada kebijakan, yang mana suatu kebijakan yang dibuat mungkin dapat menguntungkan suatu kelompok atau daerah tertentu, dan nantinya dapat berdampak di masyarakat. Selanjutnya kondisi ekonomi di Batanghari yang juga masih banyak kesenjangan perlu adanya upaya perbaikan untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera adil dan makmur.
Berdasarkan uraian diatas penulis berpendapat tipe kepemimpinan yang ideal untuk kabupaten Batanghari adalah kepemimpinan yang demokratis yaitu pemimpin yang menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya, yang bersama-sama dengan kelompoknya berusaha dan bertanggung jawab tentang tercapainya tujuan bersama. Pemimpin yang bersifat demokratis menafsirkan kepemimpinannya bukan sebagai ditaktor, melainkan sebagai pemimpin yang berada ditengah-tengah masyarakatnya. Dengan kata lain, pemimpin memiliki peran penting untuk memastikan setiap keputusan yang diambil bersama tersebut telah dilakukan oleh setiap bawahannya. Selain itu, para pemimpin juga berperan sebagai pengawas, pengatur dan pemegang kontrol. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha menstimulus anggota-anggotanya agar bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam tindakan dan usahanya ia selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya, dan mempertimbangkan kesanggupan serta kemampuan kelompoknya. Para guru bekerja dengan sukacita untuk memajukan program-program kerja disekolah. Kepemimpinan yang demokratis dapat dicirikan dari hal-hal berikut :

1.         Wewenanng pimpinan tidak mutlak.
                Sebagai pemimpin dalam organisasi yang menganut gaya kepemimpinan demokratis, pemimpin tidak memiliki wewenang yang mutlak dimana setiap keputusan dan kebijakan organisasi atau negara dilakukan melalui musyawarah mufakat. Dengan demikian setiap pendapat dari bawahan dapat menjadi sebuah landasan dalam pengambilan keputusan.
2.         Bawahan diberi kesempatan untuk berprakarsa dan menyampaikan saran
            Dalam gaya kepemimpinan demokratis, setiap bawahan memiliki andil yang sama dan keleluasaan untuk mengutarakan pendapat dan aspirasi mereka terhadap organisasi. Aturan dan tata cara prosedur tercantum secara tertulis untuk membuat alur memberikan masukan tetap tertib dan kondusif.
  1. Tanggung jawab dipikul bersama dengan bawahan
            Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Inilah peribahasa yang menjadi sebuah nilai moral yang dianut oleh gaya kepemimpinan demokratis, dimana pemimpin dan juga bawahan menanggung tanggung jawab secara bersama-sama, tidak berat sebelah.
Dalam hal ini, setiap keberhasilan ataupun kegagalan sama-sama dipikul bersama-sama, baik itu oleh pemimpin dan juga para bawahannya.
  1. Pimpinan bersedia melimpahkan wewenang kepada  bawahan
  2. Keputusan dan kebijakan dibuat baersama antara pimpinan dan bawahan
  3. Komunikasi berlangsung dua arah
  4. Pengwasan dilakukan secara wajar
  5. Tugas kepada bawahan lebih bersifat permintaan dari pada instruksi
  6. Pujian dan kritik kepada bawahan diberikan secara seimbang
  7. Terdapat suasana saling percaya dan saling menghargai





BAB III
PENUTUP

 3.1 Kesimpulan
Keadaan sosial di Batanghari tidak dapat dipisahkan dari keberagaman suku, budaya dan agama. Masyarakat batanghari dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan terbuka. Dari sudut pandang keagamaan dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Sedangkan dari segi politik di Kabupaten Batanghari mulai terlihat bentuk dinasti politik. Begitupun dalam menghadapi Pilkada Batanghari tahun 2020 sudah ada beberapa nama yang menjadi kandidat kuat  yang akan maju menjadi bakal calon Bupati Batanghari.
Sedangkan dari segi ekonomi, kondisi perekonomian Kabupaten Batanghari sampai saat ini masih didominasi oleh sektor pertanian, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor industri pengolahan.+
Berdasarkan  keadaan sosial, politik dan ekonomi kabupaten Batanghari maka dapat disimpulkan tipe kepemimpinan yang ideal untuk kabupaten Batanghari adalah kepemimpinanyang demokratis yaitu pemimpin yang menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya, yang bersama-sama dengan kelompoknya berusaha dan bertanggung jawab tentang tercapainya tujuan bersama.

3.2 Saran
Sebagai salah satu daerah yang termasuk kedalam pemilik kebun karet yang cukup luas, dengan adanya permasalahan yang ada dibutuhkan pemimpin yang ideal yang mampu memanfaatkan hasil perekonomian melalui bidang perkebunan serta pemimpin yang mampu merangkul masyarakat untuk bersama-sama membangun kabupaten Batanghari lebih baik lagi.






DAFTAR PUSTAKA

 Jurnal “pengertian kepemimpinan” hal 10


 www.jambiseru.com/flash-new/2019/15/7/pilbup-tanjabbar-warga-bosan-dengan-dinasti diakses pada 18 oktober 2019

  A muksit “kabupaten Batanghari” jurnal hal 1-2

   Asep suryana “konsep dasar kepemimpinan” vol 1.25




[1] A muksit “kabupaten Batanghari” jurnal hal 1-2