TUGAS MAKALAH KEPEMIMPINAN
“Keadaan Sosial Ekonomi dan
Politik”

Dosen Pengampu : Alva Beriansyah, S.IP., M.IP
Dr . H. Ridham Priskap , SH., MH
Mata Kuliah : Kepemimpinan
Disusun oleh :
M. Farid Nur Isnaini
(H1A117031)
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
UNIVERSITAS JAMBI
2019
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kita sehingga
kami berhasil menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu untuk
menyelesaikannya sebagai tambahan ilmu, tugas dan pedoman makalah mata kuliah kepemimpinan
yang berkaitan dengan keadaan sosial ekonomi dan juga politik serta tipe ideal
pemimpin Kabupaten
Batanghari.
Kami menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata, kami sampaikan
terimakasih atas segala bentuk kerjasamanya. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kami khususnya dan juga kepada para pembaca umumnya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Jambi, Oktober 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang................................................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah.............................................................................................................. 3
1.3
Tujuan Masalah.................................................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN`
2.1 Keadaan sosial,politik dan ekonomi................................................................................... 4
2.2 Tipe Pemimpin Ideal.......................................................................................................... 5
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan........................................................................................................................ 8
3.2 Saran.................................................................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................ 9
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kepemimpinan
adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok menuju pencapaian sebuah
visi atau tujuan yang ditapkan (Robbins, 2015:249). Sedangkan gaya kepemimpinan
adalah pola perilaku pemimpin dalam mempengaruhi sikap, perilaku, dan
sebagainya para pengikutnya. Pengertian pola perilaku bukan dalam pengertian
statis akan tetapi dalam pengertian dinamis. Gaya kepemimpinan seseorang akan
berubah-ubah tergantung pada kuantitas dan kualitas para pengikut, situasi, dan
budaya sistem sosialnya. Seorang pemimpin dapat mempergunakan sejumlah pola
perilaku atau gaya yang berbeda dalam mempengaruhi pengikutnya (Wirawan,
2013:352). Seorang pemimpin harus memperhatikan gaya kepemimpinan dalam proses
mempengaruhi dan mengarahkan kegiatan anggota kelompoknya, karena masing-masing
individu memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda. Sedangkan disisi yang
lain, perusahaan memiliki visi dan misi yang harus diwujudkan oleh setiap
karyawannya. Gaya kepemimpinan yang tepat dibutuhkan dalam suatu perusahaan
untuk dapat meningkatkan kepuasan kerja melalui penyelarasan tujuan anggota dengan
tujuan perusahaan, sehingga keduanya dapat terlaksana dengan baik. Selain gaya
kepemimpinan, keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan dalam mewujudkan
kepuasan kerja pada karyawannya dipengaruhi juga oleh budaya organisasi. Edgar
Schein dalam Ivancevich dkk (2007:44) mendefinisikan budaya organisasi sebagai
suatu pola dari asumsi dasar – yang diciptakan, ditemukan, atau dikembangkan
oleh kelompok tertentu saat belajar menghadapi masalah adaptasi eksternal dan
integrasi internal – yang telah berjalan cukup baik untuk dianggap valid dan
oleh karena itu, untuk diajarkan kepada anggota baru sebagai cara yang benar
untuk berpresepsi, berpikir, dan berperasaan sehubungan dengan masalah yang
dihadapinya. Budaya organisasi, budaya koorporat dan budaya kerja merupakan
nilai-nilai dominan yang disebarluaskan didalam organisasi dan dijadikan acuan
sebagai filosofi kerja pegawai.
Kepuasan
kerja pada dasarnya merupakan hal yang bersifat individual. Hal ini karena
setiap individu mempunyai kepribadian yang berbeda satu dengan yang lain.
Wibowo (2013:132) mengatakan kepuasan kerja pada hakikatnya adalah merupakan
tingkat perasaan senang seseorang sebagai penilaian positif terhadap
pekerjaannya dan lingkungan tempat pekerjaannya. Pekerja dengan kepuasan kerja
tinggi mengalami perasaan positif ketika mereka berpikir tentang tugas mereka
atau mengambil bagian dalam aktivitas tugas. Seorang pemimpin mempunyai tugas
untuk membantu pengikutnya mencapai tujuan dan mengarahkan atau Jurnal Ilmiah
Universitas Batanghari Jambi Vol.18 No.1 Tahun 2018 100 Pengaruh Gaya
Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Kepuasan Kerja pada PT Agung
Automall Cabang Sipin di Provinsi Jambi memberikan dukungan sesuai kebutuhan
untuk memastikan bahwa tujuan mereka sejalan dengan tujuan kelompok (Robbins
& Coulter, 2010:156). Seorang pemimpin dapat mempergunakan sejumlah pola
perilaku atau gaya yang berbeda dalam mempengaruhi pengikutnya. Pemimpin yang
menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan karakterisktik pengikut akan
memperoleh keselarasan dalam bekerja. Apa yang menjadi kekurangan pengikut atau
kondisi pekerjaannya dapat diimbangi pemimpin. Keselarasan dalam bekerja ini
yang akan meningkatkan penilaian positif pengikut terhadap pekerjaan. Selain
gaya kepemimpinan, keberhasilan suatu oganisasi atau perusahaan dalam
mewujudkan kepuasan kerja pada karyawannya dipengaruhi juga oleh budaya
organisasi. Edgar Schein dalam Ivancevich dkk (2007:44) mendefinisikan budaya
organisasi sebagai suatu pola dari asumsi dasar – yang diciptakan, ditemukan, atau
dikembangkan oleh kelompok tertentu saat belajar menghadapi masalah adaptasi
eksternal dan integrasi internal – yang telah berjalan cukup baik untuk
dianggap valid dan oleh karena itu, untuk diajarkan kepada anggota baru sebagai
cara yang benar untuk berpresepsi, berpikir, dan berperasaan sehubungan dengan
masalah yang dihadapinya. Budaya organisasi, budaya koorporat dan budaya kerja
merupakan nilai-nilai dominan yang disebarluaskan didalam organisasi dan
dijadikan acuan sebagai filosofi kerja pegawai. Karyawan yang memahami
nilainilai dalam suatu organisasi kemudian menjadikan nilai tersebut sebagai
kepribadian diri. Nilai dan keyakinan yang telah menjadi kepribadian diri akan
diwujudkan menjadi perilaku keseharian dalam bekerja. Suatu perusahaan yang terdiri
dari banyak karyawan, budaya yang baik akan memberikan iklim positif di tempat
kerja. Iklim positif tersebut akan memberikan perasaan positif yang pada
akhirnya akan menciptakan kepuasan kerja bagi tiap-tiap karyawan. Berdasarkan
uraian diatas, diduga terdapat pengaruh gaya kepemimpinan dan budaya organisasi
terhadap kepuasan kerja. Dengan asumsi semakin baik gaya kepemimpinan yang
dilaksanakan dan semakin kuat budaya organisasi yang diterapkan pegawai, maka
semakin tinggi kepuasan kerja yang dirasakan pegawai.
1.2 Rumusan Masalah
1. bagaimana
kondisi kabupaten batanghari :
2. bagaimana
gaya kepemimpinan yang ideal untuk memimpin kabupaten Batanghari
1.3 Tujuan Masalah
- mengetahui
bagaimana kondisi di Kabupaten Batanghari
- mengetahui
gaya kepemimpinan yang ideal untuk memimpin kabupaten Batanghari
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kondisi Sosial Politik di Kabupaten
Batanghari
Keadaan
sosial di Batanghari tidak dapat dipisahkan dari keberagaman suku, budaya dan
agama. Masyarakat Batanghari dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan terbuka.
Dari sudut pandang keagamaan dikenal sebagai masyarakat yang agamis yang
memposisikan agama sebagai landasan dalam berbagai aspek kehidupan
bermasyarakat Salah contohnya terdapat banyak pondok pesantren dan sekolah
madrasah diniyah. Masyarakat Batanghari sampai saat ini masih menjunjung tinggi
adat-istiadatnya. Seperti permainan tradisional Rakyat Bumi Serentak Bak regam,
pemakaian penutup kepala bagi perempuan (tengkuluk), tradisi lamaran, dan
kegiatan bekarang besamo (menagkap ikan bersama).
Sedangkan
dari segi politik dikabupaten batanghari mulai terlihat bentuk dinasti politik.
Dimana pada saat
ini pemimpin di Batanghari di dominasi dari keluarga Syahirsyah dan Fattah. Seperti
beberapa nama yang menjadi kandidat kuat bakal maju pada Pilbup Batanghari
seperti Yuninta Asmara (isteri Bupati Syahrisyah dan wakil ketua I DPRD
Kabupaten Batanghari) dan M. Hafidz (anak Rahimahullah Fattah). Selain itu
Wakil Bupati Batanghari saat ini yaitu Hj. Sofia Joesoef, SH, MM merupakan
isteri dari Rahimahullah Fattah (BUPATI Batanghari periode 2001-2006).
Sedangkan ketua DPRD Batanghari yaitu Anita Yasmin yang merupakan Ketua DPRD
termuda di Indonesia tidak lain adalah menantu Wakil Bupati saat ini.
Dalam
menghadapi Pilkada Batanghari tahun 2020 diprediksi masih di dominasi 3 Trah
yakni, Trah Abdul Fattah, Trah Hasip Kalimuddin Syam, dan Trah Syahirsah SY.
Pengamat mengatakan kekuatan Trah mendiang Abdul Fattah masih mengakar.
Artinya,konstituen dan basis yang sudah mengakar. Hal ini terbukti pada
pemilihan legislatif, dan pilkada sebab setiap kontestasi politik selalu
mendominasi. Abdul Fattah mempunya basis yang militan ditingkat bawah. Tetapi
berbicara hari ini tidak bisa terlepas dari peluang. Meskipun semua peluang sama,
namun siapa yang bisa memanfaatkan situasi pada saat ini. Trah Hasip Kalimuddin
Syam ada pada Cameli Puji Astuti yang merupakan putrinya. Trah Hasip hampir
sama dengan Trah Abdul Fattah tetapi kontestasi politik yang diikuti belum
menunjukkan hasil. Selanjutnya, Trah Syahirsah yang emungkinan besar akan
dilanjutkan oleh Yuninta Asmara sebagai istri Bupati Batanghari yang aktif
2.2 Kondisi Ekonomi di Kabupaten Batanghari
Kondisi
perekonomian Kabupaten Batanghari sampai saat ini masih didominasi oleh sektor
pertanian, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor
industri pengolahan. Sektor unggulan terpilih yaitu sektor pertanian, industri,
Bangunan, Perdagangan, hotel dan Restoran dan sektor jasa – jasa. Sedangkan
Subsektor unggulan terpilih dari sektor pertanian adalah subsektor kehutanan,
sedangkan subsektor unggulan terpilih dari jasa-jasa adalah subsektor
pemerintahan umum, subsektor terpilih dari sektor perdagangan, hotel dan
restoran adalah perdagangan besar dan eceran.
Namun,
komoditas pertanian ataupun perkebunan cukup banyak diusahakan petani dan
memegang peranan penting, adalah karet. Hal ini dapat dimaklumi mengapa
pentingnya komoditas karet ini dikembangkan sebagai salah satu komoditi
unggulan Kabupaten Batanghari mengingat dari sekian banyak komoditi perkebunan,
perkebunan karet memiliki lahan terluas dan terbesar di Kabupaten Batanghari,
hal ini menunjukkan betapa besarnya potensi komoditas karet untuk di kembangkan
guna menopang perekonomian rakyat. Jika dilihat dari jenis usaha perkebunan
karet, Kabupaten Batanghari memiliki lahan terluas serta jumlah produksi yang
paling banyak dari komoditi-komoditi perkebunan lainnya. Hal ini menunjukkan
betapa besarnya produksi komoditas karet untuk dikembangkan guna menopang perekonomian
rakyat. Bila dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja, maka usaha tani
perkebunan karet ini mampu menyerap ribuan petani karet. Besarnya jumlah petani
yang menggantungkan hidupnya pada komoditas perkebunan karet ini, sudah barang
tentu merupakan aset yang harus di manfaatkan, sebagai upaya meningkatkan hasil
produksi karet dalam rangka meningkatkan ekspor komoditas karet.
Ironisnya
sektor pertanian yang merupakan menyerap tenaga kerja terbesar dan tempat
menggantungkan harapan hidup sebagian besar masyarakat khususnya di pedesaan itu justru menghadapi masalah yang
cukup kompleks. Masalah-masalah tersebut antara lain mencakup rendahnya tingkat
pendapatan petani. Sektor yang identik dengan daerah pedesaan ini menghadapi
masalah kemiskinan. Kondisi kesejahteraan masyarakat pedesaan dengan mata
pencarian utama disektor pertanian sebagian besar masih di bawah rata-rata
nasional. Hal ini bila di biarkan secara terus menerus akan menjadi sebab
semakin melebarnya kesenjangan pendapatan antara masyarakat yang berpenghasilan
tinggi dengan masyarakat yang berpenghasilan rendah yang pada akhirnya akan
menjadikan yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan menjadi semakin miskin
(Mubyarto, 1989).[1]
2.3 Tipe Ideal Pemimpin Untuk Kabupaten Batanghari
Melihat kondisi sosial di Kabupaten Batanghari yang
beranekaragam tentu rentan terjadi konflik suku, ras, dan agama, serta para
pendatang dan penduduk asli di sana. Kondisi politik yang juga masih di
dominasi oleh para penguasa yang memiliki hubungan kekerabatan tentu hal ini
dapat berpengaruh pada kebijakan, yang mana suatu kebijakan yang dibuat mungkin
dapat menguntungkan suatu kelompok atau daerah tertentu, dan nantinya dapat berdampak
di masyarakat. Selanjutnya kondisi ekonomi di Batanghari yang juga masih banyak
kesenjangan perlu adanya upaya perbaikan untuk menciptakan masyarakat yang
sejahtera adil dan makmur.
Berdasarkan uraian diatas penulis berpendapat tipe kepemimpinan
yang ideal untuk kabupaten Batanghari adalah kepemimpinan yang demokratis yaitu
pemimpin yang menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya, yang
bersama-sama dengan kelompoknya berusaha dan bertanggung jawab tentang
tercapainya tujuan bersama. Pemimpin yang bersifat demokratis menafsirkan
kepemimpinannya bukan sebagai ditaktor, melainkan sebagai pemimpin yang berada
ditengah-tengah masyarakatnya. Dengan kata lain, pemimpin memiliki
peran penting untuk memastikan setiap keputusan yang diambil bersama tersebut
telah dilakukan oleh setiap bawahannya. Selain itu, para pemimpin juga berperan
sebagai pengawas, pengatur dan pemegang kontrol. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha menstimulus anggota-anggotanya
agar bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam tindakan
dan usahanya ia selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya,
dan mempertimbangkan kesanggupan serta kemampuan kelompoknya. Para guru bekerja
dengan sukacita untuk memajukan program-program kerja disekolah. Kepemimpinan
yang demokratis dapat dicirikan dari hal-hal berikut :
1.
Wewenanng pimpinan tidak mutlak.
Sebagai pemimpin dalam
organisasi yang menganut gaya kepemimpinan demokratis, pemimpin tidak memiliki
wewenang yang mutlak dimana setiap keputusan dan kebijakan organisasi atau
negara dilakukan melalui musyawarah mufakat. Dengan demikian setiap pendapat
dari bawahan dapat menjadi sebuah landasan dalam pengambilan keputusan.
2.
Bawahan diberi kesempatan untuk berprakarsa dan
menyampaikan saran
Dalam
gaya kepemimpinan demokratis, setiap bawahan memiliki andil yang sama dan
keleluasaan untuk mengutarakan pendapat dan aspirasi mereka terhadap
organisasi. Aturan dan tata cara prosedur tercantum secara tertulis untuk
membuat alur memberikan masukan tetap tertib dan kondusif.
- Tanggung
jawab dipikul bersama dengan bawahan
Berat
sama dipikul, ringan sama dijinjing. Inilah peribahasa yang menjadi sebuah
nilai moral yang dianut oleh gaya kepemimpinan demokratis, dimana pemimpin dan
juga bawahan menanggung tanggung jawab secara bersama-sama, tidak berat
sebelah.
Dalam hal ini, setiap keberhasilan ataupun kegagalan
sama-sama dipikul bersama-sama, baik itu oleh pemimpin dan juga para
bawahannya.
- Pimpinan
bersedia melimpahkan wewenang kepada
bawahan
- Keputusan
dan kebijakan dibuat baersama antara pimpinan dan bawahan
- Komunikasi
berlangsung dua arah
- Pengwasan
dilakukan secara wajar
- Tugas
kepada bawahan lebih bersifat permintaan dari pada instruksi
- Pujian dan
kritik kepada bawahan diberikan secara seimbang
- Terdapat
suasana saling percaya dan saling menghargai
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Keadaan
sosial di Batanghari tidak dapat dipisahkan dari keberagaman suku, budaya dan
agama. Masyarakat batanghari dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan terbuka.
Dari sudut pandang keagamaan dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Sedangkan
dari segi politik di Kabupaten Batanghari mulai terlihat bentuk dinasti
politik. Begitupun dalam
menghadapi Pilkada Batanghari tahun 2020 sudah ada beberapa nama yang menjadi
kandidat kuat yang akan maju menjadi
bakal calon Bupati
Batanghari.
Sedangkan dari segi ekonomi, kondisi perekonomian Kabupaten Batanghari sampai saat ini
masih didominasi oleh sektor pertanian, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel,
dan restoran serta sektor industri pengolahan.+
Berdasarkan
keadaan sosial, politik dan ekonomi kabupaten Batanghari maka dapat
disimpulkan tipe kepemimpinan yang ideal untuk kabupaten Batanghari adalah
kepemimpinanyang demokratis yaitu pemimpin yang menganggap dirinya sebagai
bagian dari kelompoknya, yang bersama-sama dengan kelompoknya berusaha dan
bertanggung jawab tentang tercapainya tujuan bersama.
3.2 Saran
Sebagai salah
satu daerah yang termasuk kedalam pemilik kebun karet yang cukup luas, dengan
adanya permasalahan yang ada dibutuhkan pemimpin yang ideal yang mampu
memanfaatkan hasil perekonomian melalui bidang perkebunan serta pemimpin yang
mampu merangkul masyarakat untuk bersama-sama membangun kabupaten Batanghari
lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal “pengertian kepemimpinan” hal 10
http://www.batangharikab.go.id/bat/statis-6-letakdanwilayahadministrasi.html
diakses 18 oktober 2019
www.jambiseru.com/flash-new/2019/15/7/pilbup-tanjabbar-warga-bosan-dengan-dinasti
diakses pada 18 oktober 2019
A muksit “kabupaten Batanghari”
jurnal hal 1-2
Asep suryana “konsep dasar
kepemimpinan” vol 1.25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar